Roemah Martha Tilaar Sumbangsih untuk Gombong

INSPIRASI dan kontribusi nyata bagi masyarakat selalu menjadi alasan utama berbagai kegiatan yang dilakukan Martha Tilaar Group. Hal itu juga yang menjadi tujuan utama dibangunnya Roemah Martha Tilaar (RMT), di Gombong, Jawa Tengah.

Roemah Martha Tilaar dibangun berawal dari keinginan Martha Tilaar untuk berkontribusi bagi Kota kelahirannya, Gombong.

Rumah yang merupakan tempat tinggal Martha Tilaar hingga ia berusia 11 tahun tersebut kini terus berkembang. Meski sempat terbengkalai selama hampir 20 tahun, akhirnya pada Desember 2014, RMT secara resmi dibuka untuk masyarakat.

RMT dibangun sesuai dengan impian Martha untuk menjadikan rumah keluarganya sebagai tempat yang bermanfaat bagi masyarakat Gombong. Saat ini RMT terus dikembangkan menjadi sumber inspirasi warga berkarya. Tidak hanya sebagai museum keluarga, RMT juga menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat dan komunitas di Gombong.

Seperti diungkapkan Wulan Tilaar, anak Martha Tilaar yang saat ini dipercaya sang ibu menjadi ketua Yayasan Warisan Budaya Gombong, RMT dibangun dengan tujuan menciptakan ruang kreatif bermuatan edukasi dan rekreasi bagi warga Gombong dan sekitarnya.

"RMT berkembang dengan cepat menjadi salah satu pusat kegiatan bagi masyarakat Gombong. Tidak hanya perempuan, tetapi juga lakilaki, khususnya anak muda dari berbagai komunitas," ujar Wulan.

Ada 19 komunitas masyarakat secara rutin dan bergiliran mengisi dan mengadakan berbagai kegiatan di rumah yang sudah berdiri sejak 1920-an tersebut. Mulai pelatihan dan edukasi pengembangan obat tradisional, kerajinan anyam, hingga beragam kegiatan komunitas lain, seperti film, jurnalistik, dan pengajaran bahasa asing.

RMT juga secara berkala melakukan berbagai kegiatan, mulai pendampingan UKM bentukan warga lokal bersama Gambaran brand, Heritage Trail Tour, Festival Kriya hingga kegiatan Festival Hari Bumi untuk pengenalan & pelestarian lingkungan.

"Kami mencoba memberikan edukasi kepada warga, khususnya pelajar setempat untuk lebih menghargai dan mau menjaga kekayaan alam dan budaya. Kami mengajak melakukan kegiatan konservasi serta kegiatan tradisional seperti macapat dan ebleg untuk menghidupkan kembali budaya setempat," ujar Wulan.

Kontribusi Martha Tilaar Group kepada Gombong tidak hanya diberikan melalui pengembangan RMT, tapi lebih luas dengan melakukan upaya menghidupkan kembali serta pengenalan peninggalanpeninggalan sejarah, budaya, hingga kekayaan alam Gombong.

"Kami saat ini tengah melakukan upaya pendokumentasian jejak heritage Gombong. Tim RMT yang melakukan dan 2018 rencananya akan dirilis dalam bentuk buku," ujar Wulan.

Dengan begitu, ia berharap masyarakat Gombong dan Indonesia secara umum dapat kembali mengingat dan menghargai setiap potensi yang ada di sana. Ke depan, diharapkan, Gombong dapat terus berkembang menuju kota yang lebih sejahtera lewat pengembangan potensi wisata sejarah, alam, dan budaya yang dihidupkan setiap masyarakat di dalamnya.(Pro/S1-25)



Sumber : MediaIndonesia.com
Penulis: MI

-
KEBUMEN, KOMPAS.com – Gombong, sebuah kecamatan di Kabupaten Gombong, Jawa Tengah memiliki sebuah tempat wisata sejarah yang wajib untuk dikunjungi. Terletak di jalur selatan Pulau Jawa yang ramai dengan kendaraan bus maupun truk, ada sebuah “lorong” waktu bisa membawa Anda menjelajah sejarah sang pendiri Martha Tilaar. Ya, tempat wisata yang masih baru di Gombong itu bernama “ Roemah Martha Tilaar”. Dari nama, tempat wisata yang menyimpan segala kenangan tentang Martha Tilaar bisa ditemui di tempat yang beralamat di Jalan Sempor Lama Nomor 28 ini adalah rumah masa kecil Martha. Roemah Martha Tilaar merupakan bangunan lama bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang telah dipugar. Bangunan dengan tegel-tegel bermotif serta berkaca patri ini kini bertransformasi menjadi bangunan baru yang siap dikunjungi oleh wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rumah di Gombong Ini Jadi Tempat Wisata, Dulunya Dianggap Rumah Hantu", http://travel.kompas.com/read/2018/01/05/180708327/rumah-di-gombong-ini-jadi-tempat-wisata-dulunya-dianggap-rumah-hantu.