Perempuan Harus Tangguh dan Bisa Berkarya

HARI Ibu merupakan momen penting setiap perempuan. Tidak hanya bagi seorang ibu, tetapi juga perempuan secara umum di seluruh Indonesia.

Karena Hari Ibu yang dirayakan setiap 22 Desember bermakna sebagai perjuangan kaum perempuan yang dicetuskan oleh Kongres Perempuan pada 1928 untuk mengobarkan semangat perempuan Indonesia dalam meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Namun, Hari Ibu kini pun bermakna sebagai hari mengungkapkan rasa cinta anggota keluarga atas peran ibu dalam rumah tangga.

“Bagi saya, Hari Ibu memiliki makna yang luas, momen istimewa yang mengingatkan kita pentingnya peran dan jasa ibu bagi keluarga dan sebagai pengingat serta penyemangat akan tugas kita sebagai perempuan ialah melanjutkan perjuangan para perempuan hebat yang memprakarsai gerakan perempuan nasional melalui Kongres Perempuan Indonesia Pertama,” kata Vice Chairwoman Martha Tilaar Group, Wulan Tilaar, kepada Media Indonesia di Jakarta, Rabu (6/12).

Momen itu harus dipandang sebagai dorongan dan pemacu semangat kepada setiap perempuan untuk dapat menjadi sosok yang tangguh serta selalu bersemangat untuk berkarya dan bermanfaat untuk sekeliling mereka. Tidak hanya sebagai fondasi dalam keluarga, tetapi juga lebih luas lagi, yakni bagi lingkungan, bangsa, dan negara.

“Kalau pada hari ini saya harus melakukan dari sisi kita sendiri, jadi saya sebagai seorang anak, ibu, pemimpin perusahaan, saya mencoba meminjam dan memaknai semangat para perempuan hebat dalam Kongres Perempuan itu untuk melakukan perubahan positif bagi keluarga, lingkungan dan harapannya, bagi bangsa juga,” ujar Wulan.

Pencapaian istimewa
Secara umum ia melihat perempuan sudah memiliki peran yang penting dan mampu berada di posisi (jabatan) yang zaman dulu mungkin hanya diduduki kaum lakilaki.

Itu, katanya, merupakan pencapaian istimewa yang mengingatkan bahwa perempuan bukan sosok yang lemah, tetapi sosok hebat yang memiliki kemampuan, kecerdasan, dan keahlian yang setara dari kaum laki-laki.

“Mewujudkan cita-cita perempuan Indonesia untuk bebas dari keterkekangan masalah politik, sosial, dan budaya serta membebaskan perempuan dari budaya patriarki. Itu semangat yang harus terus diperjuangkan oleh setiap perempuan,” ujar Wulan.

Saat ini, meski hal itu semakin terwujud, Wulan menilai masih butuh usaha yang keras untuk membuatnya lebih maksimal. Karena dominasi budaya patriakis masih kuat sehingga banyak kendala yang menghambat perempuan untuk bisa setara.

Ia mencontohkan masih adanya persepsi bahwa perempuan hanya bertanggung jawab dalam urusan domestik, serta pertentangan antara kehidupan karier dan pribadi seorang perempuan. Hal itu membuat masih marak diskriminasi berbasis gender di lingkungan kerja.

“Hal seperti itu membuat mereka kurang termotivasi untuk mengambil gelar pendidikan yang lebih tinggi,” ujar Wulan.

Untuk memperbaiki itu, dibutuhkan kerja keras bersama, baik dari perempuan, laki-laki, keluarga, masyarakat, maupun pemerintah.

Pemerintah harus membuat aturan yang adil dan tidak mendiskreditkan perempuan. Sementara itu, masyarakat dan keluarga harus mau berpikiran lebih terbuka akan peran dan potensi perempuan.

“Hal itu yang selalu berusaha saya lakukan di keluarga dan lingkungan. Beruntungnya saya memiliki keluarga yang sangat terbuka akan hal itu dan sangat mendukung saya untuk mewujudkan itu (cita-cita),” ujar Wulan.(S1-25)

Sumber : MediaIndonesia.com
Penulis: Putri Rosmalia Oktaviani

Artikel lainnya